Isra’ dan Mi’raj
merupakan salah satu mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW. Ulama mengatakan
bahwa mukjizat Isra’ dan Mi’raj mengandung banyak mukjizat lain di dalamnya.
Semua muslim sudah selayaknya mempelajari dan mengamalkan pesan yang terkandung
didalamnya sebagai bentuk mahabbah dan Ittiba’ kepada Rasulullah SAW.
Terdapat
Ayat-ayat suci Al-Qur’an yang mengabadikan peristiwa besar ini. Begitu juga
banyak Hadist Nabawi dengan beragam riwayat yang mengisahkan perjalanan seorang
hamba Allah ( Nabi Muhammad SAW ) dari Masjidil harom menuju Masjidi
Aqsa hingga kemudian naik ke langit bertemu Allah SWT. Penulis akan
mengkhususkan tulisan ini pada peristiwa Mi’raj dengan segala keajaibannya
beserta hikmah-hikmah nya. Penulis merangkumnya dari penjelasan para Ulama Rahimahumullah
dengan sangat ringkas, dengan niat menyebarkan ilmu dan mengamalkannya dan
mengaharap setitik berkah dari ilmu mereka.
Ayat Qur’an dan Hadist Nabawi tentang Mi’raj
ﭑ ﭒ ﭓ
ﭽ ﭑ
ﭒ ﭓ ﭔ
ﭕ ﭖ ﭗ
ﭘ ﭙ ﭚ
ﭛ ﭜ ﭝ
ﭞ ﭟ ﭠ
ﭡ ﭢ ﭣ
ﭤ ﭥ ﭦ
ﭧ ﭨ ﭩ
ﭪ ﭫ ﭬ
ﭭ ﭮ ﭯ
ﭰ ﭱ ﭲ
ﭳ ﭴ ﭵ
ﭶ ﭷ ﭸ
ﭹ ﭺ ﭻ
ﭼ ﭽ ﭾ
ﭿ ﮀ ﮁ
ﮂ ﮃ ﮄ
ﮅ ﮆ ﮇ
ﮈ ﮉ ﮊ
ﮋ ﮌ ﮍ
ﮎ ﮏ ﮐ
ﮑ ﮒ ﮓ
ﮔ ﮕ ﮖ
ﮗ ﮘ ﮙ ﮚ ﮛ
ﮜ ﮝ ﮞ
ﮟ ﮠ ﮡ
ﮢ ﮣ ﮤ
ﮥ ﮦ ﮧ
ﮨ ﮩ ﮪ
ﮫ ﮬ ﭼ النجم: ١ - ١٨
1. Demi bintang ketika terbenam.
2. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru.
3. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.
4. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).
5. Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.
6. Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli.
7. Sedang dia berada di ufuk yang Tinggi.
8. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi.
9. Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi).
10. Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang Telah Allah wahyukan.
11. Hatinya tidak mendustakan apa yang Telah dilihatnya[1429].
12. Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang Telah dilihatnya?
13. Dan Sesungguhnya Muhammad Telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,
14. (yaitu) di Sidratil Muntaha[1430].
15. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal,
16. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.
17. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.
18. Sesungguhnya dia Telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.
2. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru.
3. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.
4. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).
5. Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.
6. Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli.
7. Sedang dia berada di ufuk yang Tinggi.
8. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi.
9. Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi).
10. Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang Telah Allah wahyukan.
11. Hatinya tidak mendustakan apa yang Telah dilihatnya[1429].
12. Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang Telah dilihatnya?
13. Dan Sesungguhnya Muhammad Telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,
14. (yaitu) di Sidratil Muntaha[1430].
15. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal,
16. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.
17. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.
18. Sesungguhnya dia Telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.
Hadist
Nabawi Tentang Isra’ Mi’raj
Hadist
Nabi tentang Isra’ Mi’raj sangat banyak dan riwayatnya pun beragam. Di antara hadits shahih yang menyebutkan kisah ini adalah
hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya , dari sahabat Anas
bin Malik :Dari Anas bin Malik radhiyallahu
‘anhu bahwa
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda
:
“ Didatangkan
kepadaku Buraaq – yaitu yaitu hewan putih yang panjang, lebih besar
dari keledai dan lebih kecil dari baghal, dia
meletakkan telapak kakinya di ujung pandangannya (maksudnya langkahnya sejauh
pandangannya). Maka
sayapun menungganginya sampai tiba di Baitul
Maqdis, lalu saya mengikatnya di tempat yang digunakan untuk mengikat tunggangan para Nabi. Kemudian
saya masuk ke masjid dan shalat 2 rakaat kemudian keluar . Kemudian datang kepadaku Jibril ‘alaihis salaam dengan
membawa bejana berisi khamar dan bejana berisi air susu. Aku memilih
bejana yang berisi air susu. Jibril kemudian berkata : “ Engkau telah memilih
(yang sesuai) fitrah”.
Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit (pertama) dan
Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia
menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad”
Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka
dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Adam. Beliau
menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian kami naik ke langit kedua,
lalu Jibril ‘alaihis salaam meminta dibukakan pintu, maka dikatakan
(kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi:“Siapa yang bersamamu?” Dia
menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia
telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kedua) dan saya bertemu
dengan Nabi ‘Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariya shallawatullahi ‘alaihimaa,
Beliau berdua menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.
Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit ketiga dan Jibril
meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia
menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad”
Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka
dibukakan bagi kami (pintu langit ketiga) dan saya bertemu dengan Yusuf
‘alaihis salaam yang beliau telah diberi separuh dari kebagusan(wajah). Beliau
menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian Jibril naik bersamaku
ke langit keempat dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan
(kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab: “Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit
keempat) dan saya bertemu dengan Idris alaihis salaam. Beliau menyambutku
dan mendoakan kebaikan untukku. Allah berfirman yang artinya : “Dan Kami telah
mengangkatnya ke martabat yang tinggi” (Maryam:57).
Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit kelima dan Jibril
meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia
menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad”
Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka
dibukakan bagi kami (pintu langit kelima) dan saya bertemu dengan Harun ‘alaihis salaam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan
untukku.
Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit keenam dan Jibril
meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka
dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Musa. Beliau
menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian Jibril naik
bersamaku ke langit ketujuh dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka
dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab, “Muhammad” Dikatakan,
“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab, “Dia telah diutus”. Maka dibukakan
bagi kami (pintu langit ketujuh) dan saya bertemu dengan Ibrahim. Beliau sedang menyandarkan punggunya ke Baitul Ma’muur. Setiap hari masuk ke Baitul Ma’muur tujuh puluh ribu
malaikat yang tidak kembali lagi. Kemudian Ibrahim pergi bersamaku ke Sidratul
Muntaha. Ternyata daun-daunnya seperti telinga-telinga gajah dan buahnya
seperti tempayan besar. Tatkala dia diliputi oleh perintah Allah, diapun berubah
sehingga tidak ada seorangpun dari makhluk Allah yang sanggup mengambarkan
keindahannya
Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan.
Allah mewajibkan kepadaku 50 shalat sehari semalam. Kemudian saya turun menemui Musa ’alaihis salam. Lalu dia bertanya: “Apa yang diwajibkan Tuhanmu atas ummatmu?”. Saya menjawab: “50 shalat”. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena
sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya. Sesungguhnya saya telah
menguji dan mencoba Bani Isra`il”. Beliau bersabda :“Maka sayapun kembali
kepada Tuhanku seraya berkata: “Wahai Tuhanku, ringankanlah untuk ummatku”. Maka dikurangi dariku 5 shalat. Kemudian saya kembali
kepada Musa dan berkata:“Allah mengurangi untukku 5 shalat”. Dia berkata:“Sesungguhnya
ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya, maka kembalilah kepada Tuhanmu dan
mintalah keringanan”. Maka terus menerus saya pulang balik antara Tuhanku
Tabaraka wa Ta’ala dan Musa ‘alaihis salaam, sampai pada akhirnya Allah
berfirman:“Wahai Muhammad, sesungguhnya ini adalah 5 shalat sehari semalam,
setiap shalat (pahalanya) 10, maka semuanya 50 shalat. Barangsiapa yang
meniatkan kejelekan lalu dia tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis (dosa
baginya) sedikitpun. Jika dia mengerjakannya, maka ditulis(baginya) satu
kejelekan”. Kemudian saya turun sampai saya bertemu dengan Musa’alaihis salaam
seraya aku ceritakan hal ini kepadanya. Dia berkata:“Kembalilah kepada Tuhanmu
dan mintalah keringanan”, maka sayapun berkata: “Sungguh saya telah kembali kepada Tuhanku sampai sayapun malu
kepada-Nya”. (H.R Muslim 162)
Hikmah Mi’raj
Berikut ini adalah sebagian dari hikmah
dan ilmu yang terkandung dalam peristiwa mi’raj Rasulullah SAW.
1.
Langit
memiliki pintu-pintu yang dijaga oleh para malaikat. Kemudian peristiwa
terbukanya pintu langit yang sebelumnya terkunci, lalu Jibril ‘alaihissalam meminta untuk dibukakan, yang demikian
agar alam semesta mengetahui bahwa sebelum kedatangan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hal ini belum pernah dilakukan. Sekiranya
tidak demikian, mungkin orang akan menyangka bahwa pintu langit senantiasa
terbuka. Dan Allah Ta’ala juga hendak mengabarkan bahwa Nabi
Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam dikenal
oleh penduduk langit. Oleh karena itu, ketika pintu langit dibukakan, lalu
Malaikat Jibril mengatakan kepada penjaga langit bahwa ia bersama Muhammad,
malaikat penjaga tersebut bertanya, “Apakah dia telah diutus?” Bukan bertanya,
“Siapa Muhammad?”[1]
2.
Pertemuan
Rasulullah SAW dengan para Nabi sebelumnya. Ulama berbeda pendapat tentang
pengkhususan (Ikhtishas) setiap Nabi yang dijumpai Rasulullah SAW di
tiap tingkat langit. Sebagian mengatakan bahwa Ikhtishas tersebut
menunjukkan tingkat dan derajat nabi yang ditemui Rasulullah SAW dibandingkan
dengan Nabi yang tidak dipertemukan dengan Rasul. Sebagian lagi berpendapat
bahwa pertemuan tersebut adalah isyarat pada apa yang akan terjadi antara Rasulullah SAW dan kaumnya yang mana serupa
dengan yang dialami para nabi tersebut.
·
Nabi
Adam As : Beliau keluar dari surga dan diturunkan ke bumi. Hal ini serupa
dengan peristiwa Hijrah Nabi SAW dari Makkah ke Madinah. Pertemuan di langit
pertama sebab Nabi Adam As adalah nabi pertama.
·
Isa
dan Yahya As : hal yang sama dialami Rasulullah SAW dengan mereka yaitu
permusuhan dan niat buruk kaum yahudi terhadapnya. Pertemuan di langit ke 2
sebab Nabi Isa As adalah nabi yang paling dekat zamannya dengan Rasulullah SAW.
·
Yusuf
As : Keinginan saudara-saudara nabi Yusuf As untuk membunuhnya sama dengan keinginan
saudara-saudara Nabi Muhammad SAW dari kaum Quraisy untuk membunuh dan
menghentikan Nabi SAW berdakwah. Dan Hasil akhir kedua peristiwa itu adalah
kemenangan dan kekuasaan akhirnya milik Rasulullah SAW dan Nabi Yusuf As.
·
Idris
As : pertemuan Rasulullah SAW dengan Nabi Idris menunjukkan kedudukan Nabi SAW
disisi Allah SWT. Allah berfirman tentang nabi Idris As : “dan Kami
mengangkatnya ke tempat yang tinggi”.
·
Harun
As : bahwa kaum nya kembali mencintainya setelah sebelumnya mereka
menyakitinya. Nabi Harun As di langit ke 5 sedangkan Nabi Musa As di langit ke
enam sebab mereka bersaudara dan Musa As lebih utama daripada Harun As.
·
Musa
As : berupa gangguan yang dialami Rasulullah SAW oleh kaumnya. Nabi Muhammad
SAW bersabda: “sungguh Musa As disiksa lebih dari ini dan dia bersabar”.
Pertemuan di langit ke 6 memberi isyarat pada kejadian Nabi SAW dan pengikutnya
dilarang masuk ke Makkah dan thawaf Ka’bah. Hal ini serupa ketika Nabi Musa as
memerintahkan umatnya untuk masuk ke Baitul Maqdis merekapun menolak.
·
Ibrahim
As : Beliau bersandar di Bait Ma’mur sebagai isyarat atas peristiwa di akhir
hayat Rasulullah SAW, yaitu beliau menunaikan haji. Bertemunya Rasulullah SAW
dengan Ibrahim As di langit ke 7 adalah isyarat atas masuknya Rasulullah SAW ke
Makkah pada tahun 7 Hijriyah setelah pada tahun sebelumnya beliau tidak mampu
sebab dihalangi oleh kaum Quraisy.
3.
Disyari’atkannya
meminta izin. Dan ketika ditanya seyogyanya bagi orang yang meminta izin untuk
menjawab dengan menyebutkan nama nya, “saya fulan” misalnya dan tidak menjawab
dengan “ini saya”.
4.
Sunnah bagi orang yang sedang lewat memulai
salam kepada orang yang duduk meskipun orang yang lewat lebih mulia.
5.
Sunnah
berjumpa dengan orang-orang yang mulia dan menyambutnya dengan ucapan selamat
atau pujian dan mendoakannya.
6.
Kebolehan
memuji orang lain yang terlihat bisa aman dari fitnah
7.
Kebolehan
menyandarkan punggung ke arah qiblat dan arah lainnya. Hal ini didasarkan dari
bersandarnya Nabi Ibrahim As ke Bait Makmur, karena Bait Makmur sama dengan
Ka’bah yaitu qiblat dari segala penjuru.
8.
Keutamaan
safar di malam hari sebagaimana peristiwa isra’ mi’raj terjadi. Oleh karena itu
pula ibadah Rasulullah SAW lebih banyak pada malam hari jika dibandingkan
ibadahnya di siang hari
9.
Peristiwa
Mi’raj juga memberi pesan bahwa praktek atau percobaan lebih efektif dan
efisien dalam keberhasilan suatu pekerjaan dari pada teori. Hal ini
tergambarkan dari percakapan antara Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Musa As
tentang kewajiban Sholat yang Allah perintahkan.
10.
Surga
dan Neraka telah diciptakan. Sebagaimana dalam diriwayat lain Rasulullah SAW
mengatakan: “ kemudian diperlihatkan kepadaku surge dan neraka”.
11.
Sunnah
dan sangat dianjurkan memperbanyak do’a dan permohonan kepada Allah SWT dan
meminta syafa’at di sisiNya.
12.
Keutamaan memberi nasehat kepada orang yang
membutuhkan meskipun orang tersebut tidak memintanya[2].
Demikian
penjelasan singkat tentang Mi’raj Rasulullah SAW dan hikmahnya. Semoga
bermanfaat. Wa ma taufiqi illa billah, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib.
![]() |
| Masjidil Aqsha-Palestine |
![]() |
| Masjidil Haram-Makkah |
* ditulis oleh: Muhammad Arif, pada Dauroh Kado Spesial dari Sidratul Muntaha


Tidak ada komentar:
Posting Komentar