Jumat, 29 April 2016

Teror Bukan Bagian Dari Islam*


Alhamdu lillah, was sholatu was salamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa sohbihi wa man waalah wa man ittaba’a hudaah. Amma ba’du,
Beberapa tahun belakangan ini terjadi peristiwa-peristiwa yang memperburuk imej Islam. Mulai dari bom Bali hingga yang terakhir bom dan penembakan di jalan MH Thamrin Jakarta. Aktivitas gerakan garis keras tersebut telah banyak merubah pandangan masyarakat, baik terhadap Islam itu sendiri maupun terhadap pemeluknya. Islam dicap sebagai ajaran bar bar, agama teroris atau sebutan lainnya. Padahal aksi mereka sama sekali tidak mencerminkan agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW sebagai rahmat , tidak hanya untuk pemeluknya tapi untuk seluruh alam semesta.
Sesungguhnya benih gerakan ini telah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Usai menang dalam perang Hunain, Rasulullah SAW membagi harta rampasan perang kepada orang-orang yang baru masuk islam dan tidak memberi kaum muhajirin maupun anshor bagian, hingga datanglah seorang laki-laki bernama Dzul Khuwaisiroh secara tiba-tiba menarik kain di leher Nabi, lalu berkata: “wahai Muhammad, berlaku adil lah !”. rasulullah menjawab : “ celakalah kamu, jika aku tidak adil, maka siapa yang adil?!”. Kisah ini memberi gambaran kepada kita bagaimana sifat orang yang tidak bisa mencerna perilaku nabi sebagai syari’(sumber hukum), laki-laki ini tidak mengerti hikmah dari cara pembagian Nabi. Hingga akhirnya dengan pemahamannya yang ia anggap benar, ia berani menyalahkan dan berlaku kasar kepada Nabi SAW.
Di zaman Khalifah Ali Bin Abi Thalib Ra, muncul golongan Khowarij yang memvonis fasiq, murtad, kafir terhadap orang2 yang yang tidak sependapat dengan mereka, tidak hanya itu, bahkan mereka tega membunuh saudara seiman mereka yang mereka anggap salah. Para sahabat seperti Ali, Muawiyah pun tidak lepas dari tuduhan mereka. Khawarij menuduh kafir orang-orang yang tidak mau mengamalkan hukum Allah (menurut pemahaman mereka). Lalu dengan alasan kafir, mereka merasa berhak merampas hak-hak orang lain, mereka membunuh jiwa, menjarah harta dan menodai kehormatan manusia banyak.
Meskipun Khawarij sudah tidak pada saat ini, akan tetapi pemikiran mereka masih berkembang hingga saat ini. Untuk itu diperlukan peringatan tentang bahayanya pemikiran tersebut agar tidak banyak kaum muslimin yang terhasud dan ikut dalam fitnah ini. 
Faktor Aksi Kekerasan Atas Nama Agama
Motivasi gerakan keras melakukan aksinya antara lain keuntungan finansial, kesempatan mendapatkan kekuasaan, dan lemahnya pemahaman atas ajaran agama, terutama dalam hal spiritualitas.[1]
Faktor finansial adalah bisnis terselubung gerakan garis keras. Ditengah krisis ekonomi yang berkepanjangan, godaan materi ini sangat berpengaruh pada orang yang masih lemah imannya. Kelompok garis keras dengan sokongan dana yang melimpah dengan mudah menarik simpatisan untuk bergabung dengan mereka.
Namun faktor terpenting dan barangkali yang menjadi alasan kebanyakan orang terpesona dengan kelompok ini adalah lemahnya pemahaman mereka tentang ajaran islam. Jargon jargon garis keras seperti membela islam, penerapan syari’ah, penegakan Khilafah Islamiyah bisa menjadi jurus yang ampuh dan mempesona. Pada saat yang sama, pihak-pihak yang menolak jargon jargon itu akan dituduh menolak syari’ah bahkan menolak islam.
Gerakan garis keras seringkali menggunakan ayat-ayat suci Al Qur’an dan Hadist Nabawi yang berhubungan dengan jihad untuk membenarkan aksi mereka. Pemahaman mereka sangat berbeda dengan pemahaman Ulama tentangnya. Sebab menganggap diri mereka yang paling benar, mereka pun enggan menerima pemikiran lain atas dalil-dalil tersebut. Hasilnya banyak yang menganggap islam adalah agama yang keras,kaku anti perbedaan dan sebagainya.
Sebenarnya jika melihat sejarah dakwah Rasulullah SAW, maka akan kita dapati bahwa apa yang dilakukan oleh para teroris atau gerakan garis keras sangat bertentangan cara Nabi berdakwah kepada orang2 kafir.
Setelah wafatnya sang paman, Abu Thalib, gangguan dan siksaan orang-orang kafir Quraisy kepada Nabi SAW semakin berat, beliau pun pergi menuju Thaif dengan harapan akan mendapat sambutan yang baik dari penduduknya dan mereka mau menerima agama yang Ia bawa. Akan tetapi kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Perlakuan mereka kepada Nabi lebih parah dibandingkan perlakuan orang-orang          Quraisy. Mereka mengusirnya dan menipu orang-orang termasuk anak-anak untuk melempari Rasulullah SAW dengan batu, hingga kedua kakinya berdarah. Rasulullah pun sedih atas perlakuan mereka. Kemudian datanglah Jibril dan berkata: “Allah beri salam untukmu, dan mengutus bersamaku malaikat gunung yang siap menerima segala perintahmu”. Malaikat gunung berkata : “ jika engkau berkehendak, dan perintahkan ku untuk menimpa gunung akhsyabin atas mereka , niscaya akan ku lakukan”. Nabi SAW menolak tawaran malaikat, beliau justru menjawab: “tidak, sungguh aku berharap lahir dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya”. Jika ini yang Nabi SAW ajrkan kepada kita dalam menyikapi orang-orang kafir yang berbeda keyakinan dengan kita, lalu bagaimana sikap kita kepada saudara kita yang notabene muslim?.
Ketika Nabi SAW tiba di Madinah, beliau tidak memaksa kaum Yahudi Madinah untuk masuk Islam, Nabi SAW membuat kesepakatan damai dengan mereka untuk mewujudkan kedamaian antara muslim dan non-muslim. Saat Fathu Makkah, dan semua penduduknya berada dalam kekuasaannya, sikap Nabi SAW juga demikian, bahkan ketika salah seorang Anshor berkata: hadza yaumul malhamah “ hari ini adalah hari pembalasan”, Nabi SAW justru menyanggahnya dan berkata  hadza yaumul marhamah “ justru ini adalah hari kasih sayang”.
Begitu juga ketika Nabi SAW marah kepada Khalid Bin Walid Ra yang membunuh orang yang telah bersyahadat sebab ia mengira bahwa orang tersebut mengucapkan syahadat karena takut dibunuh. Semua itu menunjukkan bahwa membunuh muslim bukan perkara sepele yang bisa dilakukan orang dengan sekehendaknya sendiri. Dan masih banyak contoh dari siroh Nabi SAW yang menunjukkan pada kita bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan cinta kasih pada sesama manusia, apapun agamanya, terlebih kepada sesama umat islam.[2]

Strategi Gerakan Teroris
Kelompok garis keras memiliki banyak tipu muslihat dalam menyebarkan pemikiran dan melakukan aksi mereka. Banyak kaum muslimin yang secara sadar atau tidak sadar ikut terjerumus kedalamnya.
1.      Menyebarkan paham paham radikal melalui da’i-da’i, buku dan media massa
2.      Mengucurkan dana berjumlah fantastis untuk mendukung aksi teror mereka
3.      Memvonis sesat, murtad atau kafir kepada golongan yang berbeda pendapat dengan mereka. Tidak hanya itu bahkan mereka tega membunuh muslim yang yang tidak sependapat dengan mereka
Ikhtiyar Berlindung Dari Fitnah
            Setiap muslim seyogyanya selalu mawas diri terhadap setiap peristiwa yang terjadi di sekitarnya, terlebih di zaman yang penuh fitnah ini. Berlindung dari pemikiran dan perbuatan yang menyimpang dari tuntunan Rasulullah menjadi wajib hukumnya, agar setiap muslim mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Untuk selamat dari gerakan garis keras ada banyak langkah yang bisa dilakukan, antara lain :
1.      Belajar dan terus belajar ajaran Islam sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW dan para ulama rahimahumullah  dan mengamalkannya. Ilmu adalah modal terpenting bagi manusia untuk menjalani kehidupannya. Seorang muslim harus mempelajari agama nya dari ulama yang mengajarkan Islam yang indah dan penuh kasih sayang sebagaimana diturunkan Allah pada RasulNya, Wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamiin.
2.      Membentengi diri dengan selalu menghayati setiap ibadah yang ia kerjakan. Dan berusaha selalu dekat dengan ulama. Kepada merekalah kita mencari jawaban atas setiap hal-hal atau masalah yang tidak kita mengerti, fas’alu ahladz dzikri in kuntum laa ta’lamuun.
3.      Bersikap selektif terhadap segala pemberitaan media tentang aksi kekerasan yang mengatas namakan islam
4.      Tidak terpengaruh pada dakwah/ajakan golongan radikalis ekstrimis
5.      Selalu menjaga ukhuwah/persaudaraan, baik itu sesama pemeluk Islam maupun persaudaraan sebangsa setanah air
6.      Menumbuhkan dan mempertahankan rasa cinta tanah air, sebab diantara agenda utama gerakan garis keras adalah menghapus sistem pemerintahan dan menggantinya dengan Khilafah Islamiyah. Hal ini bertentangan dengan kesepakatan para pendiri dan ulama negeri ini bahwa NKRI adalah harga mati yang tak boleh ditawar lagi
Demikian tulisan ini dibuat, semoga bermanfaat. Wa ma taufiqi illa billah, wa la haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzhim.



[1] ) lebih lengkapnya baca “Ilusi Negara Islam : Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia”, KH Abdurrahman Wahid, Wahid Institute, Cet I 2009
[2]) Baca “At Ta’ayyusy Al Insani Wat Tasamuh Ad Diini fil Islam” , dan “ Fit Thoriq Ilal Ulfah Al Islamiyah”, Abdul Fatah Soleh Qodisy Al Yafi’i

Mi’raj; Mukjizat Besar dan Hikmahnya


Isra’ dan Mi’raj merupakan salah satu mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW. Ulama mengatakan bahwa mukjizat Isra’ dan Mi’raj mengandung banyak mukjizat lain di dalamnya. Semua muslim sudah selayaknya mempelajari dan mengamalkan pesan yang terkandung didalamnya sebagai bentuk mahabbah dan Ittiba’ kepada Rasulullah SAW.
Terdapat Ayat-ayat suci Al-Qur’an yang mengabadikan peristiwa besar ini. Begitu juga banyak Hadist Nabawi dengan beragam riwayat yang mengisahkan perjalanan seorang hamba Allah ( Nabi Muhammad SAW ) dari Masjidil harom menuju Masjidi Aqsa hingga kemudian naik ke langit bertemu Allah SWT. Penulis akan mengkhususkan tulisan ini pada peristiwa Mi’raj dengan segala keajaibannya beserta hikmah-hikmah nya. Penulis merangkumnya dari penjelasan para Ulama Rahimahumullah dengan sangat ringkas, dengan niat menyebarkan ilmu dan mengamalkannya dan mengaharap setitik berkah dari ilmu mereka.
Ayat Qur’an dan Hadist Nabawi tentang Mi’raj
ﭑ ﭒ ﭓ
ﭑ  ﭒ      ﭓ  ﭔ  ﭕ  ﭖ  ﭗ   ﭘ  ﭙ  ﭚ  ﭛ  ﭜ   ﭝ  ﭞ  ﭟ  ﭠ  ﭡ  ﭢ    ﭣ   ﭤ  ﭥ  ﭦ  ﭧ  ﭨ   ﭩ   ﭪ  ﭫ      ﭬ  ﭭ  ﭮ  ﭯ  ﭰ  ﭱ  ﭲ  ﭳ  ﭴ  ﭵ   ﭶ  ﭷ  ﭸ  ﭹ  ﭺ     ﭻ  ﭼ  ﭽ   ﭾ  ﭿ  ﮀ  ﮁ   ﮂ  ﮃ           ﮄ    ﮅ  ﮆ  ﮇ  ﮈ  ﮉ  ﮊ  ﮋ  ﮌ  ﮍ  ﮎ    ﮏ  ﮐ  ﮑ  ﮒ  ﮓ  ﮔ  ﮕ  ﮖ  ﮗ  ﮘ  ﮙ   ﮚ    ﮛ  ﮜ    ﮝ  ﮞ  ﮟ  ﮠ  ﮡ  ﮢ     ﮣ    ﮤ  ﮥ  ﮦ  ﮧ   ﮨ  ﮩ  ﮪ  ﮫ  ﮬ  النجم: ١ - ١٨
1. Demi bintang ketika terbenam.
2. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru.
3. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.
4. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).
5. Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.
6. Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli.
7. Sedang dia berada di ufuk yang Tinggi.
8. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi.
9. Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi).
10. Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang Telah Allah wahyukan.
11. Hatinya tidak mendustakan apa yang Telah dilihatnya[1429].
12. Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang Telah dilihatnya?
13. Dan Sesungguhnya Muhammad Telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,
14. (yaitu) di Sidratil Muntaha[1430].
15. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal,
16. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.
17. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.
18. Sesungguhnya dia Telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.
Hadist Nabawi Tentang Isra’ Mi’raj
Hadist Nabi tentang Isra’ Mi’raj sangat banyak dan riwayatnya pun beragam. Di antara hadits shahih yang menyebutkan kisah ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya , dari sahabat Anas bin Malik :Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
 Didatangkan kepadaku Buraaq – yaitu yaitu hewan putih yang panjang, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal, dia meletakkan telapak kakinya di ujung pandangannya (maksudnya langkahnya sejauh pandangannya). Maka sayapun menungganginya sampai tiba di Baitul Maqdis, lalu saya mengikatnya di tempat yang digunakan untuk mengikat tunggangan para Nabi. Kemudian saya masuk ke masjid dan shalat 2 rakaat kemudian keluar . Kemudian datang kepadaku Jibril  ‘alaihis salaam dengan membawa bejana berisi  khamar dan bejana berisi air susu. Aku memilih bejana yang berisi air susu. Jibril kemudian berkata : “ Engkau telah memilih (yang sesuai) fitrah”.
Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit (pertama) dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Adam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian kami naik ke langit kedua, lalu Jibril ‘alaihis salaam  meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi:“Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kedua) dan saya bertemu dengan Nabi ‘Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariya shallawatullahi ‘alaihimaa, Beliau berdua menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.
Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit ketiga dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketiga) dan saya bertemu dengan Yusuf ‘alaihis salaam yang beliau telah diberi separuh dari kebagusan(wajah). Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit keempat dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab: “Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit keempat) dan saya bertemu dengan  Idris alaihis salaam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Allah berfirman yang artinya : “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi” (Maryam:57).
Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit kelima dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kelima) dan saya bertemu dengan  Harun ‘alaihis salaam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.
Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit keenam dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Musa. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit ketujuh dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab, “Muhammad” Dikatakan, “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab, “Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketujuh) dan saya bertemu dengan Ibrahim. Beliau sedang menyandarkan punggunya ke Baitul Ma’muur. Setiap hari masuk ke Baitul Ma’muur tujuh puluh ribu malaikat yang tidak kembali lagi. Kemudian Ibrahim pergi bersamaku ke Sidratul Muntaha. Ternyata daun-daunnya seperti telinga-telinga gajah dan buahnya seperti tempayan besar. Tatkala dia diliputi oleh perintah Allah, diapun berubah sehingga tidak ada seorangpun dari makhluk Allah yang sanggup mengambarkan keindahannya
 Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan. Allah mewajibkan kepadaku 50 shalat sehari semalam. Kemudian saya turun menemui Musa ’alaihis salam.  Lalu dia bertanya: “Apa yang diwajibkan Tuhanmu atas ummatmu?”. Saya menjawab: “50 shalat”. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya. Sesungguhnya saya telah menguji dan mencoba Bani Isra`il”. Beliau bersabda :“Maka sayapun kembali kepada Tuhanku seraya berkata: “Wahai Tuhanku, ringankanlah untuk ummatku”. Maka dikurangi dariku 5 shalat. Kemudian saya kembali kepada Musa dan berkata:“Allah mengurangi untukku 5 shalat”. Dia berkata:“Sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya, maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”. Maka terus menerus saya pulang balik antara Tuhanku Tabaraka wa Ta’ala dan Musa ‘alaihis salaam, sampai pada akhirnya Allah berfirman:“Wahai Muhammad, sesungguhnya ini adalah 5 shalat sehari semalam, setiap shalat (pahalanya) 10, maka semuanya 50 shalat. Barangsiapa yang meniatkan kejelekan lalu dia tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis (dosa baginya) sedikitpun. Jika dia mengerjakannya, maka ditulis(baginya) satu kejelekan”. Kemudian saya turun sampai saya bertemu dengan Musa’alaihis salaam seraya aku ceritakan hal ini kepadanya. Dia berkata:“Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”, maka sayapun berkata: “Sungguh saya telah kembali kepada Tuhanku sampai sayapun malu kepada-Nya”. (H.R Muslim 162)
Hikmah Mi’raj
Berikut ini adalah sebagian dari hikmah dan ilmu yang terkandung dalam peristiwa mi’raj Rasulullah SAW.
1.     Langit memiliki pintu-pintu yang dijaga oleh para malaikat. Kemudian peristiwa terbukanya pintu langit yang sebelumnya terkunci, lalu Jibril ‘alaihissalam meminta untuk dibukakan, yang demikian agar alam semesta mengetahui bahwa sebelum kedatangan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam hal ini belum pernah dilakukan. Sekiranya tidak demikian, mungkin orang akan menyangka bahwa pintu langit senantiasa terbuka. Dan Allah Ta’ala juga hendak mengabarkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dikenal oleh penduduk langit. Oleh karena itu, ketika pintu langit dibukakan, lalu Malaikat Jibril mengatakan kepada penjaga langit bahwa ia bersama Muhammad, malaikat penjaga tersebut bertanya, “Apakah dia telah diutus?” Bukan bertanya, “Siapa Muhammad?”[1]
2.     Pertemuan Rasulullah SAW dengan para Nabi sebelumnya. Ulama berbeda pendapat tentang pengkhususan (Ikhtishas) setiap Nabi yang dijumpai Rasulullah SAW di tiap tingkat langit. Sebagian mengatakan bahwa Ikhtishas tersebut menunjukkan tingkat dan derajat nabi yang ditemui Rasulullah SAW dibandingkan dengan Nabi yang tidak dipertemukan dengan Rasul. Sebagian lagi berpendapat bahwa pertemuan tersebut adalah isyarat pada apa yang akan terjadi antara  Rasulullah SAW dan kaumnya yang mana serupa dengan yang dialami para nabi tersebut.
·        Nabi Adam As : Beliau keluar dari surga dan diturunkan ke bumi. Hal ini serupa dengan peristiwa Hijrah Nabi SAW dari Makkah ke Madinah. Pertemuan di langit pertama sebab Nabi Adam As adalah nabi pertama.
·        Isa dan Yahya As : hal yang sama dialami Rasulullah SAW dengan mereka yaitu permusuhan dan niat buruk kaum yahudi terhadapnya. Pertemuan di langit ke 2 sebab Nabi Isa As adalah nabi yang paling dekat zamannya dengan Rasulullah SAW.
·        Yusuf As : Keinginan saudara-saudara nabi Yusuf As untuk membunuhnya sama dengan keinginan saudara-saudara Nabi Muhammad SAW dari kaum Quraisy untuk membunuh dan menghentikan Nabi SAW berdakwah. Dan Hasil akhir kedua peristiwa itu adalah kemenangan dan kekuasaan akhirnya milik Rasulullah SAW dan Nabi Yusuf As.
·        Idris As : pertemuan Rasulullah SAW dengan Nabi Idris menunjukkan kedudukan Nabi SAW disisi Allah SWT. Allah berfirman tentang nabi Idris As : “dan Kami mengangkatnya ke tempat yang tinggi”.
·        Harun As : bahwa kaum nya kembali mencintainya setelah sebelumnya mereka menyakitinya. Nabi Harun As di langit ke 5 sedangkan Nabi Musa As di langit ke enam sebab mereka bersaudara dan Musa As lebih utama daripada Harun As.
·        Musa As : berupa gangguan yang dialami Rasulullah SAW oleh kaumnya. Nabi Muhammad SAW bersabda: “sungguh Musa As disiksa lebih dari ini dan dia bersabar”. Pertemuan di langit ke 6 memberi isyarat pada kejadian Nabi SAW dan pengikutnya dilarang masuk ke Makkah dan thawaf Ka’bah. Hal ini serupa ketika Nabi Musa as memerintahkan umatnya untuk masuk ke Baitul Maqdis merekapun menolak.
·        Ibrahim As : Beliau bersandar di Bait Ma’mur sebagai isyarat atas peristiwa di akhir hayat Rasulullah SAW, yaitu beliau menunaikan haji. Bertemunya Rasulullah SAW dengan Ibrahim As di langit ke 7 adalah isyarat atas masuknya Rasulullah SAW ke Makkah pada tahun 7 Hijriyah setelah pada tahun sebelumnya beliau tidak mampu sebab dihalangi oleh kaum Quraisy.
3.     Disyari’atkannya meminta izin. Dan ketika ditanya seyogyanya bagi orang yang meminta izin untuk menjawab dengan menyebutkan nama nya, “saya fulan” misalnya dan tidak menjawab dengan “ini saya”.
4.      Sunnah bagi orang yang sedang lewat memulai salam kepada orang yang duduk meskipun orang yang lewat lebih mulia.
5.     Sunnah berjumpa dengan orang-orang yang mulia dan menyambutnya dengan ucapan selamat atau pujian dan mendoakannya.
6.     Kebolehan memuji orang lain yang terlihat bisa aman dari fitnah
7.     Kebolehan menyandarkan punggung ke arah qiblat dan arah lainnya. Hal ini didasarkan dari bersandarnya Nabi Ibrahim As ke Bait Makmur, karena Bait Makmur sama dengan Ka’bah yaitu qiblat dari segala penjuru.
8.     Keutamaan safar di malam hari sebagaimana peristiwa isra’ mi’raj terjadi. Oleh karena itu pula ibadah Rasulullah SAW lebih banyak pada malam hari jika dibandingkan ibadahnya di siang hari
9.     Peristiwa Mi’raj juga memberi pesan bahwa praktek atau percobaan lebih efektif dan efisien dalam keberhasilan suatu pekerjaan dari pada teori. Hal ini tergambarkan dari percakapan antara Nabi Muhammad SAW dengan Nabi Musa As tentang kewajiban Sholat yang Allah perintahkan.
10.                        Surga dan Neraka telah diciptakan. Sebagaimana dalam diriwayat lain Rasulullah SAW mengatakan: “ kemudian diperlihatkan kepadaku surge dan neraka”.
11.                        Sunnah dan sangat dianjurkan memperbanyak do’a dan permohonan kepada Allah SWT dan meminta syafa’at di sisiNya.
12.                         Keutamaan memberi nasehat kepada orang yang membutuhkan meskipun orang tersebut tidak memintanya[2].
Demikian penjelasan singkat tentang Mi’raj Rasulullah SAW dan hikmahnya. Semoga bermanfaat. Wa ma taufiqi illa billah, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib.

Masjidil Aqsha-Palestine

Masjidil Haram-Makkah

* ditulis oleh: Muhammad Arif, pada Dauroh Kado Spesial dari Sidratul Muntaha

[1] as-Suyuthi, al-Khasha-is an-Nabawiyah al-Kubra, 391-392)
[2] Lihat : Ibnu Hajar, Fathul Baari, )7/217) , An-Nawawi, Syarah Sohih Muslim, Bab Isra’( 2/209-217)